Senin, 04 Oktober 2010

Kutukan Itu pun Pergi

Kutukan datang ketika gue putus dengan cinta ke-11 gue. Dalam catatan sejarah gue, gue adalah cowok yang pantang berlama-lama nge-jomblo. Bukan sebuah kebohongan, walaupun gue secara pribadi mengakui kalo gue ini gak keren, jauh dari oke, tapi gue yang seperti ini pada zaman dahulu kala termasuk tipe cowok yang gampang dapet cewek. Lo mungkin bisa mengkategorikan gue sebagai cowok bajingan kala itu. Pendapat ini gue dapet dari Raditya Dika yang mengkategorikan cowok itu dalam dua kelompok yang gue bisa setujui. Pertama, cowok itu BAJINGAN. Kedua, kalo nggak bajingan berarti dia HOMO! Dan gue bukan homo!! Gue terima kalo lo anggap gue bajingan. Sadis!
Kembali ke masalah kutukan.
Gue pernah menganggap cerita ke-11 dalam hidup gue bakal jadi kisah kekal untuk selamanya. Itu yang gue pikirin zaman dulu. Sampai akhirnya cerita ke-11 gue harus berakhir dengan kata “putus”. Disinilah kutukan itu bermula. Kakak sepupu gue, nyit-nyit (nama samaran), bilang ke gue kalo setelah gue putus ini gue bakal ngejomblo seumur hidup. Entah gimana ceritanya sampai terbentuk sugesti mengerikan dalam otak gue yang menyatakan bahwa gue gak akan laku dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.
Awalnya gue gak pernah mikirin itu. Gue termasuk tipe cowok yang PD (sebenernya lebih pantes disebut sok keren) dan juga cuek (yang sebenernya gak tau malu). Gue bisa deket sama banyak temen dan itu bikin gue enjoy sama masa jomblo gue. Gak kerasa 1 bulan berlalu dan gue masih stagnant, tidak beranjak dari kata ‘tidak laku’. Tekanan social dan bermacam cibiran datang dari berbagai pihak, termasuk bokap gue. Masa’ anaknya sendiri diledekin dan dibilang payah? Tante gue juga bilang gue ini telah lepas dari masa muda. Apa itu artinya gue setara sama opa-opa duda yang kesepian dan gak bisa ngedapetin cewek impiannya? (baca : oma-oma tetangga sebelah).
Bulan pertama, bulan kedua, gue bisa mengelak dan bilang ke semua orang kalau gue lagi pengen focus ke kuliah gue dulu. Mereka bisa menerima alasan yang sangat mulia (dan munafik) ini. Gue yang sempat berpikir bahwa gue menambah title gue dengan ‘gak laku’, sehingga kalau dibaca bakal jadi ‘bajingan gak laku’, bakal gampang menghandle semua ini kalau gue udah niat cari pacar lagi. Namun, seiring berjalannya waktu pikiran gue pun luntur, luntur, luntur, dan berganti menjadi rasa takut, parno, trauma yang mendalam yang membekas di hati dan pikiran gue. Lebay.
Hingga pada akhirnya, bulan kedua mendekati ujungnya, dan bertepatan dengan keluarnya IP semester genap tahun ini. Gue bener-bener kecewa ketika ngliat IP gue gak bagus-bagus amat. Kecewa gue bukan karena gue ngerasa gagal belajar lho ya? Tapi lebih karena gue bakalan kebingungan kalau orang-orang tau alasan gue nge-jomblo selama ini yang katanya pengen focus kuliah itu Cuma kedok semata. Mampus!
Disini gue merasa perlu ngedapetin title “bajingan” gue lagi karena selain kesepian, jujur gue juga termasuk tipe cowok yang harus menyayangi seseorang. Gimana tu? Pokoknya baca aja seperti itu.
Gue larut dalam perenungan panjang dalam hidup gue. Kadang, otak bego gue takut kalau temen-temen lama-kelamaan bakal memasukkan gue dalam kategori “homo”, tapi otak sadar dan pinter gue lebih takut kalau gue masuk lagi dalam kategori “bajingan”. Disini akhirnya gue memutuskan untuk memecahkan dormansi kutukan yang membungkus status gue hingga seperti sekarang. Gue bakal lepas dari kutukan ini melalui cara yang mulia, bijaksana, dan adil. Kata-kata itu gue ambil dari dosen Kewarganegaraan gue. Hingga pada akhirnya gue ketemu sama seorang cewek bernama Rena (nama samaran). Dia adalah orang yang mampu mengubah teori yang Dika tulis di buku “Marmut Merah Jambu”. Mengubah kelompok Bajingan, menjadi kelompok “anak baik”. Hingga dapat disimpulkan teori barunya adalah seperti ini:
Cowok dibagi menjadi 2 kelompok
Pertama, cowok baik. Kedua cowok bajingan dan/atau homo.
Dan beginilah kesimpulan logis yang gue harus perjuangkan, yaitu gue harus masuk ke dalam kategori “cowok baik” bukan lagi sebagai “bajingan”. Lebih pantas dibaca kan sekarang?
Dia benar-benar mengubah hidup gue.
Di awal kedekatan kami, gue emang rada ragu. Gue sempat punya bayangan kalau tokoh yang bakal hadir dalam cerita ke-12 gue adalah Dara – The Virgin. Terlalu bermimpi emang, tapi gue yakin gue bisa. Walaupun pada akhirnya gak kesampaian juga.
Hingga gue memutuskan menerima Rena untuk casting menjadi tokoh utama gue. 2 bulan masa casting akhirnya gue menetapkan pilihan gue untuk memilih dia menjadi tokoh utama yang sebenarnya.
Rena anaknya memang biasa aja, gak superstar seperti Dara – The Virgin, dia juga gak se-cantik Dara. Ya bisa dibilang 11-13 lah. Hehe
Tapi dibalik itu gue yakin Rena punya hati yang kan sampai mati mencintaiku, bukannya sekedar janji seperti cinta yang lain ( 17 – Jangan Sakiti Aku)
Hingga akhirnya terjadilah hari yang bersejarah ini. Dimana Indonesia akan mengenangnya!! 3 Oktober : Hari Bebas Kutukan Nasional. Serem!!!
Hingga tulisan ini dibuat, aku belum menemukan alasan lain untuk mengubah kategori yang Dika buat. Yang jelas, sebagai cowok baik yang bukan bajingan apalagi homo, gue berterima kasih banget sama Rena yang telah menjadikan gue sebagai sesosok yang seakan terlahir kembali. Gue yakin cerita lain bakal terjadi, jauh lebih indah, jauh lebih dalam…
Selamat tinggal kutukan!!!
Dan gue bisa dengan bangga bilang ke bokap gue, ANAKMU UDAH LAKU LAGI,BOSS!!!

Dan semoga gue dan Rena bakal mengukir cerita-cerita indah, bukan sekedar seneng-seneng semata.

Amiinn...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar