Jumat, 08 Oktober 2010

Seberkas Kisah Lalu 2

“kamu telat 2 menit…” ucap Rena menyambut kedatangan Edo.
“Cuma dua menit. Ngapain ngajak ketemu di sini? Gerimis gini juga. Kan kita bisa ketemu di dalem kalau cuma buat ngobrol?” jawab Edo.
“Aku pengen ngomong sesuatu ke kamu, Do. Penting… “ ucap Rena sambil menatap tajam mata Edo.
“Ngomong apa?” Tanya Edo datar.
Rena berdiri. Tepat di depannya kini sesosok manusia yang amat dia sayangi sedang menatapnya. Bola mata Rena mulai berair. Hatinya mulai tak padu dengan pikirannya. Otaknya terus mengirimkan sinyal agar Rena segera mengutarakan isi hatinya. Namun hatinya hanya bisa menangis ketika tersadar bahwa di depannya kini ada orang yang sudah menghancurkan berjuta harapan yang dia bangun selama ini.
Beberapa saat sampai kedua mata itu beradu lebih dalam. Rena tetap terdiam dan tak mampu berkata-kata. Sedangkan Edo mulai membalas tatapan tajam Rena penuh arti.
“Aku sayang kamu, Ren…” ucap Edo sambil memegang tangan Rena. Rena memalingkan muka, tertunduk.
“Tapi aku takut aku bakal kehilangan semua rasa nyaman ini kalau kita berhenti bersahabat,” lanjut Edo sambil mengangkat dagu Rena yang seketika tertunduk.
“Sekarang semuanya telah berubah dan mungkin memang kita ditakdirkan hanya bersahabat,” lanjut Edo.
Pelukan Edo mengubah gerimis di taman itu menjadi atmosfer cinta yang begitu dalam. Rena seakan menemukan kembali puing-puing yang telah hilang. Dia hanya tak bisa mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan. Perasaan yang bercampur antara bahagia, sedih, dan sedikit penyesalan.
Bahagia karena tanda tanya besar tentang Edo kini sudah menemukan jawaban. Sedih karena yang ada di depannya adalah orang yang kini tak mungkin dia miliki. Menyesal karena andai kejadian ini terjadi sebelum Vina datang, mungkin tidak akan se-tragis ini jadinya.
“Kini aku gak bisa mencintaimu lebih dari sahabat karena ada Vina yang menempati posisi itu sekarang,” ucap Edo sambil melepas pelukannya.
Hanya air mata yang menjadi satu-satunya ekspresi batin dari Rena. Hatinya lebih hancur dari sebelumnya. Dia sudah bisa menarik napas lega, tetapi dia tak bisa melepaskan rasa itu begitu saja…
***
Kini sudah setahun lebih sejak kejadian malam itu. Semua hanya menjadi kenangan antara Rena dan Edo. Kehidupan mereka pun sudah jauh berbeda dari saat mereka dekat dulu. Rena kuliah di Jogja dan Edo di Solo. Meski jarak tak begitu jauh, nampaknya kejadian malam itu membuat jarak hati keduanya benar-benar terpisah. Kini Edo kembali setelah kehilangan Vina, sedangkan Rena sudah menemukan Diaz, seorang yang mampu mencintainya setulus hati dan apa adanya.
“Ren…!”
Suara itu membuyarkan lamunan Rena akan masa lalunya. Sesosok pria berkemeja putih terlihat melangkahkan kaki keluar dari mobil silver yang tiba-tiba sudah terparkir di depan rumah Rena. Suara itu sangat ia kenal. Dia Edo.
“Apa kabar?” Tanya Edo sambil menyodorkan bunga yang semula disembunyikan di balik punggungnya.
“Baik…” jawab Rena datar.
Beberapa saat dalam keheningan. Mereka hanya duduk dan sibuk dengan sesuatu yang mereka pikirkan sendiri.
“Rasa ini gak pernah berubah sampai sekarang, atau mungkin sampai kapanpun,” ucap Edo. Matanya menerawang ke langit kelabu sore itu. Rena menoleh dan menatap Edo.
“Aku pengen kita bisa deket lagi kayak dulu,” lanjut Edo. Tangannya meraih tangan Rena.
“Aku pengen kamu kembali menjadi orang terdekat di hidupku…”
Rena terdiam dan sesaat kemudian terlontar senyum dari bibir manisnya. Pikirannya kembali melayang, mengingat kembali apa yang pernah terjadi di antara mereka. Dia menarik tangannya dan memalingkan muka. Senyum itu semakin merekah.
Saat itu dia tersadar akan satu hal. Edo hanyalah seberkas kisah lalu buat Rena. Mungkin ada sisa kepingan rasa itu di hati Rena, tapi dia juga tersadar bahwa itu hanya satu titik noda yang tertoreh dalam lembaran besar cintanya untuk Diaz.
“Kita udah punya pilihan masing-masing. Aku hanya berharap semoga ini menjadi yang terbaik buat kita semua…” ucap Rena Lirih…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar