Selasa, 24 Agustus 2010

Saya Tidak Memberi Judul apapun pada Tulisan ini

Adakah di antara kalian yg pernah membohongi diri sendiri? Adakah di antara kalian yg bersahabat dengan kebohongan,pura2, ato kepalsuan? Adakah di antara kalian yg merasa harus menutupi sesuatu demi sebuah kebaikan? Dan kemudian dari situ kalian ambil kesimpulan bahwa semua demi sebuah kata,yaitu cinta?

Takdir mengkondisikan aku pada sebuah kehidupan dimana semua pertanyaan di atas dapat terjawab dengan kata 'SAYA' dan yg terakhir adalah 'YA'.
Kisah ini berawal dari satu keisengan untuk mendekatkan hati pada seorang yg -aku sendiri tak mengenalnya-. Sampai suatu ketika kami sangat dekat dan ternyata berakhir dengan sebuah tragedi yg memaksa kami saling menjauh.
Kedekatan antara dua orang mungkin akan memicu sebuah rasa yg merupakan akumulasi dari ketertarikan. Rasa itu kemudian berbuah rindu, bahagia, dan gejala lain adalah ketika kamu tersenyum sendirian tatkala mengingat kejadian bersamanya. Pernah mengalami itu? Atau kamu sedang mengingatnya?
Yang seperti itu mungkin biasa disebut dengan gejolak cinta,atau apalah sebutan buat yg demikian. Semua yg kemudian indah ketika kamu membayangkan,bisa jadi sesuatu yg sangat buruk ketika kamu mengalaminya. Dan itulah yg terjadi. Semua angan2 akan kedekatan yg diharapkan akan berbuah manis nyatanya harus berakhir pahit. Aku harus mengakhiri kedekatanku dengan 'Dia' tahun lalu, 3 bulan pasca kami dekat.
Sudah tak kan ada senyum ketika aku mengingat kejadian bersamanya. Bahkan sering hanya mengundang sebuah penyesalan dan merasa tersayangkan melewati semua itu,dulu. Akhirnya kami berjalan dengan jalan kami masing2. Dia kembali bersama cintanya dan ku labuhkan kembali hatiku pada mantan pacarku.
***
Setengah tahun berlalu pasca kami belajar untuk tidak saling mengenal. Waktu yg mungkin tepat untuk aku berganti pasangan secara periodik. Haha.. Maklumlah,anak muda. Memerlukan refresh berkala dalam menjajaki hidup.
Kemudian secara mengejutkan datang kabar buruk bahwa 'Dia' terkena musibah. Apa yg kamu rasakan ketika mendengar mantan orang yg kamu sayangi terkena musibah? Khawatir? Cemas? Ingin menunjukkan perhatianmu lagi buat dia? Atau merasa menyesal karena keadaan membuatmu tidak bisa duduk di sampingnya dan mencoba meringankan bebannya? Semua benar adanya.
Saat itu ingin sekali aku berada di sampingnya. Entah atas dasar apa keinginan itu muncul, menyeruak di tengah fakta bahwa aku dan dia kini tak mungkin lagi bersama. Fase benci yg terbungkus pahit perlahan mulai terbuka berubah luluh dan tumbuh menjadi rasa yang dulu pernah ada.
Ah.. Tapi lagi2 takdir yg membuatku harus membohongi diriku. Ketika aku ingin sekali menengoknya,aku tersadar akan janjiku pada pacarku (waktu itu-sekarang mantan pacarku) untuk tidak lagi berhubungan dg 'Dia'. Aku mencoba mengabaikan semua rasa yg ada. Aku pun berpikir, tak akan bijak kalau aku datang,sementara dia sendiri sudah bersanding dengan indah bersama pacarnya.
Aku terbukti sukses menahan keinginanku untuk kembali.
***
3 bulan lebih setelah kejadian itu. Dia sudah sembuh pasca kecelakaan yg dialaminya. Keadaan yg berbeda pun terjadi padaku. Aku seorang jomblo yg mencari cinta,sekarang. Saat ini aku sedang dlm tahap mendekati -cewek-. Lagi2 takdir memaksaku kembali berhubungan dengan 'Dia'. Rasa yg sempat 'timbul lagi' 3 bulan lalu kembali menggerogoti sanubari. Ini menempatkanku di titik keraguan antara melanjutkan langkahku mendekati -cewek- atau kembali berspekulasi dengan 'cinta lama' yg perlahan besemi kembali.
Kami (aku dan 'dia') kembali berkomunikasi. Perlahan aku mulai memberanikan diri menyapa,mendekati,sok akrab, dan lain2. Awalnya,aku pikir kisahnya dan pacarnya sudah berakhir. Ternyata aku salah. Mereka masih bersama sementara aku terjebak dalam perasaan yg 'nanggung' saat ini. Setelah beberapa hari aku merasa dekat dg dia, inilah saat aku harus kembali berbohong. Menutupi segala yg kurasa. Meng-cover semua keraguan,dll.

Malam ini datang kabar darinya bahwa kondisinya sedang memburuk. Lengannya yg patah dan belum sembuh itu kembali sakit. Apa yg aku pikirkan ketika aku tau tentang itu? "Sial, aku dimainin takdir."
Banyak sekali ketidakjelasan di kisahku. Semua berlalu begitu saja dan malam ini, 23.30 WaKoMY, pikiranku sedang berjibaku dengan segala kebohongan.
Aku mencemaskannya. Aku bingung harus berkata apa ketika dia bilang," lenganku sakit bgt dan aku harus kembali ke RS karenanya."
Aku ingin menghiburnya,tapi dengan cara apa? Aku terlalu malu kalau harus sok bijak dengan mencoba memberikan motivasi. Aku ingat betul saat dia terbaring dan mungkin -menantikan aku datang di antara puluhan orang yg menengoknya pasca kecelakaan itu-, aku malah bersembunyi di balik keraguanku. Dan sekarang ketika aku seharusnya memberinya perhatian,takdir menempatkanku pada situasi dimana aku harus menjaga perasaan cewek lain yg sedang aku dekati (dan juga perasaan pacar si 'Dia').

Dalam hati aku cuma bisa beranggapan, takdir membuatku menjadi orang yg pandai menyembunyikan perasaan. Khawatir, cemas, aku ingin di dekatnya, menghiburnya, menjaganya, semua berhenti hanya di niat. Ya, itu semua karena takdir. Dan anggapanku ini semua memang jalan dari takdirku.
Apa yg bisa aku lakukan sekarang?

***************************

Yg jelas, aku gak bisa menyalahkan apapun atau siapapun. Jalan yg aku lalui adalah efek dari penetapan pilihan yg aku lakukan. Toh pun akhirnya aku harus sedikit menyesali ke belakang, itu bukan tindakan yg benar menurut hatiku.

sekian,
Mohon maaf kl speechless. Udah khabisan spasi buat nulis.

Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar